“Azazel : Gelap Kematian Bernyawa, Kematian Cinta”
"Cinta,
ya
cinta. Menjadi prahara diatas tahta keremajaan, sebuah pangkuan gelisah
rona empati. Menggoyahkan kemudi hati pemuda, memutar haluan sauh para
pemudi. Bagaikan ladam magnet yang saling bertautan, ataupun saling
melwan. Dan itulah prahara cinta, getir dalam senoda manis, kasar dalam
lembut gelak tawa!"
Dalam masa - masa yang kukenang itu, terpias asa. Nama yang menorehkan
kalut masa lalu tergores kembali. Kenangan hidup menginjak remaja,
setelah nikmat kehidupan fana masa kanak, melanjutkan anak tangga nyawa
pada masa yang disebut orang masa keemasan. Tapi tidak olehku, masa ini
kuselimuti dengan memori menikam hati, mengubur dan meremas pendaman
rasa yang melukai kalbu. Akan kukisahkan sakit yang kudera, membagi
dengan kalian hai yang membutuhkan dahaga. Dahaga akibat buaian cinta,
yang tak tersampaikan sampai ujung kalbu merintih. Dan akan kugambarkan
jeritan ini, yang melumpuhkan semua sendi spiritualku, mengoyak imanku,
dan mencatut emosiku. Kisahku bukanlah kata, tetapi nada dalam
senandung bidadari. Melambungkan hingga langit ke tujuh, dan
menjatuhkan kita kala kita di puncak, menjadikan Azazel menanti kita,
di neraka jahannam merujam.
Dan kini kukisahkan epos yang merusak ketentraman batin pemuda ini. Sebagai senandung pencabut nyawa, dalam nada kematian cinta.
———————————————————————————————————————————-
"Selamat datang cinta, Selamat
Tinggal Cinta!! Datangmu begitu indah, dan kau kini menghilang dalam
kabut duka, meninggalkan romansa abu - abu dalam kelam!!"
Pemuda dalam bayang - bayang langit malam, lusuh, terlihat rona
wajahnya berwarna pucat. Dalam gelap berbintang cerah pemuda ini
menatap ke atas, menatap dengan tatapan hampa pada sang jagat raya.
Hatinya sudah melintasi dimensi tiga, menembus batas ruang dan waktu,
menjelajah panorama hatinya yang tengah sendu di balik karma.
Ia berada jauh dari peraduannya, tak lebih baik juga ia kini sendiri.
Merenungi setiap tamparan nasib yang datang menguji, terduduk ia dalam
sangsangkala penat.
Berputarlah pikirannya menuju puing - puing babilon hati.
Dimulai dari cinta pertamanya, hingga sangsangkala tautan hati
terakhirnya. Meretas ia dalam tawa, menikam hati hingga hancur, dan
merajut ingatan terhempas badai. Maka jatuhlah ia, pemuda yang sendiri
dalam rajuk tangis, menari di atas badai pikiran, merajam kata - kata
yang melukiskan lara, dan menuturkan hampa dalam tiap pemikiran
sempitnya.
Dunia adalah pesimistis di hadapan ia kini, dan hanya Sang Khalid yang
mampu menariknnya, meruh ruh kecilnya dalam kubur. Dan mungkin ia kini
tak mampu berkata apa lagi, hari esok sudah tertutup, hari ini didera
sesak. Mayat bernyawa yang mengingat masa, kembali menuju dimensi
tiganya, menyeruakkan tangisan kekal dan mengemulisir lara. Terkenang
masa itu, dan kini dia hidup dalam deru ragu []
bersambung…
-akirawisnu-

Hey, I think it is great you make the time to do these. They are very helpful. Hope you are having fun.
Tina Thompson said this on November 6, 2008 at 9:05 pm
I just wanted to say good work on your site, I like the look and the information was useful.
Tina Thompson said this on November 6, 2008 at 9:05 pm